Gw dan Inkosistensi

Engga sadar kalau meja samping tempat tidur gw udah numpuk lagi, dulu yah rencananya macem begini:
– ada buku baru
– gw taro di samping tempat tidur
– gw baca tiap mau tidur
– kalau udah selesai, taruh buku di rak atau di peti buku

Rencana cuma rencana, ternyata yang ada tu buku numpuk aja terus. Beli buku terus jalan dan jarang ada yang sampai selesai. Beberapa hal yang membuat gw begini gara2 attention span gw yang rendah dan seringnya hilang minat di tengah jalan.

Attention span gw emang lumayan kacau, kalau engga dipaksain mungkin engga ada yang bisa selesai sama sekali. Baru pegang buku, eh kepikiran itu conference yg ono belum gw nonton, terus di tengah video, gw kepikiran ‘kalo gw buat begini dan begitu kayaknya lucu juga’, terus ke komputer, ditengah jalan tiba2 browsing musik2 jadul atau album terbaru. repeat again tomorrow.

Kalau soal hilang minat, harus diakui lah kadang2 buku sering nambah2in bab yang sebenarnya tidaklah perlu sama sekali. masa buku computer security perlu ngasih table sejarah transistor, hadeh, males baca terus tumpuk. Yang lebih bikin kesel lagi kalau ada typo!, jadi engga minat lagi bacanya. Should have a better acceptance.

So next what? mulai konsisten kali yah, dimulai dengan nulis disini lebih sering gitu? haha. Ada beberapa hal yang pengen gw coba, misal doing the same stuff at the same hour, mirip2 kayak anak sekolahan gitu. Kasih target realistis kalau ngapa2in, misal baca tentang X, niat gw buat X ini apa? hobby, iseng, pro or expert in the field? dari situ gw bisa tentuin baca sejauh mana dan kapan ini bisa di peti-kan.

Damm, gw kangen berenang, hampir setaon engga berenang, mau coba lari,tapi kan kaki gw emang bermasalah. seharusnya jalan cepet aja sih. Terus males kena matahari. haha.

Stay safe, stay healthy.

Seems everything almost back to normal

Been going out the house lately, for .. some clinic visit and family related stuff. The thing I found out is that the traffic seems almost back to normal. The ‘klakson’ the yelling and stupid public transport ‘ngetem’ seem become a common again.

So is it a good sign? perhaps, the number are down, the economic needs to be jumpstrarted again. People need to find a way to get food and medicine back to their home table.

I was hoping this will near the end. But it is just my asumption, when we see the ratio, it is still bleak. I am guessing there are some ‘asal bapak senang’ is happening in the background. Especially in area that should and have to have a lot of numbers.

stay safe, stay healthy.

Bootcamp again

Problem with coding/data/design bootcamp:
1. They see the student not as a person, rather some kind of bond financial instrument.
2. They do not select the student, why? see no 1.
3. They will get paid, even tough the student failed to pay. Debt collector will be in action.

This is worse than Ponzi, MLM, Ghoib stuff. Should I start teaching people again?

Privilege

Bisa kerja dari rumah, gaji full plus bonus and perks itu privilege banget. Sayang banyak yang sia-sia-in kesempatan yang udah dikasih.

Meskipun gw ini bandel, tapi gw tetep murni dan konsekuen dengan kerjaan gw. Meeting dateng on time, semua deliverable yg gw janjiin bisa di deploy pada waktunya.

Sayang gw lihat beberapa orang rada2 brengsek. Terlihat kerjanya kurang baik, ga prepare sebelum meeting atau cuma jadi pengembira didalam tim.

Mungkin orang2 ini perlu sekali2 ngerasain dateng kerja terus was2 apakah gw kena virus apa engga hari ini? Apa gw harus naik kereta ke tengah kota berdesakan dengan orang2 lain yang dipaksa masuk ke kantor.

Gw ga pernah minta banyak, cuma lakuin yg lu tulis, tulis yg lu lakuin. Ga perlu extra effort jadi superman master of the universe selama pandemi.

Gw cape sama orang2 yg ga pull their own weight.

Burn

Beberapa minggu terakhir serasa agak2 demam, takut jangan2 kena corona, tapi kan gw ketemu orang minimalis dan terakhir kontak sama orang non keluarga inti itu 4 minggu lalu haha. Pikir2 lagi beberapa minggu terakhir rada2 roller coaster, gw stress liat incompetence dan orang sotoy, entah emosi gw naik dan berakibat fisik gw kena juga.

Gw harus belajar buat deteksi kalau emosi gw lagi ga stabil dan decompress, jangan sampe engga terkendali dan sakit, mana RS lagi pada kolaps pula. Sama mungkin filter ras gw harus diaktivasi lagi, beberapa minggu terakhir orang2 ras tertentu berkelakuan mirip dengan stereotipnya.

fragment of my past

Waktu kecil, sering kali gw diajak bokap/ nyokap ke kantornya. Antara kita punya acara tertentu setelah jam kantor atau memang gw lagi nyari duit jajan tambahan dengan melakukan hal2 yang berbau komputer. kalau dahulu, jualan gw itu lotus123 atau excel. Biasanya bantu entry data dan membuat rumus summarize dibelakang atau mungkin cuma perbaiki hal2 yang perlu diupdate.

Dimasa-masa itu, saya berkenalan dengan kolega bokap atau nyokap. Engga dekat, cuma saling sapa atau mengajarkan trik2 tertentu saja. Kadang-kadang saya dibelikan komik dari stand majalah terdekat, selalu misurind, komik amerika, mungkin mereka pikir gambarnya lebih bagus dari komik elex yang tidak berwarna dan gambar terlihat asal.

Masa pandemi ini sulit bagi saya, satu demi satu kolega bokap meninggal. Percakapan ketika ke rumah orangtua selalu antara siapa yang jadi korban minggu ini. Kita menyalahkan pemerintah yang tidak tegas diawal2, tapi kita selalu tahu.. dunia demokrasi, pemerintah yang terbentuk adalah representasi dari keinginan mayoritas penduduk, dan tentu pemerintah beberapa kali mendengarkan permintaan dari konstituennya.

Gw selalu bilang ke bokap untuk pensiun saja, rumah pensiun sudah ada, cucu2 lagi dimasa lucu2nya, dan banyak kegiatan yang belum bokap lakukan misal berkebun atau menulis buku yang sudah puluhan tahun tidak pernah terwujud. Awalnya mau mendegarkan dengan tidak berpraktek selama sebulan, tapi keadaan yang mendesak dan pandemi yang mengganas membuat para senior kembali turun ke arena.

Sayang…, pandemi makin mengila dengan orang2 mulai abai dan kembali egois. Mau nongkrong, mau liburan dan mau bersosialisasi. Angka melejit, dan kembali kolega2 bokap menjadi korban. Gw selalu berpikir kalau gw itu orang yang logis, tapi ternyata tidak…. Tertular penyakit adalah konsekuensi logis dari profesi kesehatan, mulai dari hitungan bulan, kehitungan hari, adanya kabar X,Y,Z meninggal, membuat gw emosional. Gw benci orang2 yang memutuskan liburan, gw benci orang2 mengadakan seminar offline, gw benci orang2 mengadakan acara dimungkinkannya interaksi dengan orang2 terkontaminasi.

Dengan angka seperti ini, gw takut kalau nanti bukan cuma kolega orangtua yang meninggal, mungkin gw harus menguburkan keluarga gw sendiri. Penyakit dimulai dari dari jauh sebrang benua, masuk ke pulau sebrang, mengetuk ruang kerja keluarga dan sekarang mungkin sudah didepan mata, cuma takdir saja membatasi kita terkena atau tidak.

Semoga kita selamat dari pandemi ini.

Declutter

Masa pandemi ini memang sulit, ada baiknya sebelum pulang kerumah atau selesai kerja untuk diam sejenak dan declutter.

Declutter bisa dilakukan dengan apapun, misal dengan membaca buku yang sangat irrelevant, dengerin musik yg disuka atau bahkan nonton acara jepang ga jelas.

Pokoknya doing something untuk buang pengaruh negatif dari lingkungan kerja dan jangan sampe dibawa ke rumah.

Emosi yg jelek akan membuat keadaan rumah jelek, istirahat engga beres, keluarga ga terurus.

Sehari dua hari tiga hari, lama2 bakalan lebih menumpuk dan entah tujuan awal kerja untuk bawa bahagia ke keluarga malah jadi bawa bencana.

Keadaan yg kerja dari rumah, ini bisa membuat batas antara kantor dan rumah menjadi tidak jelas. Anjing dikantor beda dengan anjing dirumah, satu layak digebuk satu buat disayang.

Punya space khusus atau penanda kantor sedang on atau off. Kalau saya dengan setelah kantor selesai, tutup semua akses dari kantor, laptop kantor diganti dengan laptop rumah, meskipun saya tidak akan menggunakan laptop rumah.

Semoga kita semua bisa selamat dari pandemi ini.

akibat komersialisasi pendidikan

Punya beberapa intern di tempat gw, agak kecewa dengan kemampuannya. sepertinya hal mendasar seperti analisis kompleksitas atau scheduling timeline lemah sekali. Kalau debat selalu berdebat dengan kata-kata ‘menurut orang-orang’, orang-orang yang mana bang? lu sekolah apa tidur sih?.

Gw menyalahkan komersialisasi pendidikan. sekolah mahal, jadi costumernya mahasiswa, mahasiwa nilainya jelek yang disalahin dosennya engga mampu ngajar sampai ngasih soal kesusahan. akhirnya nilai jadi diobral. makin tahun kayaknya makin parah aja.

Bodoh itu mirip kayak bau badan, yang punya engga merasa apa2 yang disekitar menderita.

Mungkin gw ini fundamentalis, kampus buat membuka cara berpikir bukan membuat orang employable dengan menjejalkan hapalan tech terbaru. Untuk berargumen dan membuka wawasan bukan cek hapalan website, blog abc.

Sekian