On Pilem

Dulu, dulu banget suka ngumpulin berbagai jenis pilem. Dari yg mainstream sampai level festival, hunting ke tempat2 DVD blue ray etc adalah hobi tiap pulang kantor atau weekend. Suka juga nonton di bioskop, tapi karena malas dengan keramaian, seringnya nonton di midnight, ini juga di dukung oleh posisi rumah yang ada didepan bioskop persis.

Sekarang malas euy nonton pilem. mungkin karena efek pandemi yang mana gw males ada di kerumunan orang yang tidak dikenal, atau emang sudah faktor usia juga. Makin tua makin logis, makin sering nyadar … “ini ga make sense sama sekali”. Apalagi dengan pilem2 macem marvel. wtf lah, so many plot hole, commercial dan juga pesan2 ga beres.

Sekarang? baca buku lebih ok. Ada kali 3 tahun passed movie night etc whatever. Festival related movie kadang2 nonton, kalau punya akses ke streaming services. But yet again hampir jarang sekali, gw sekarang lebih sering setel youtube random untuk nemenin gw makan atau lagi deep fokus. Yup, I’m old and bitter.

Advertisement

16 tahun !!

Gila baru nyadar kalau gw dah 16 th kerja professionally. Time goes by yah. Kerja mulai dari jaman AS400 sampai sekarang udah jaman multi cloud aja.

Liat kebelakang, ga nyangka juga karir gw kayak gini. Dulu mikirnya … lulus kuliah, cari kerja yg ada bau2 bisnis, terus MBA terus going into investment banking atau hedge fund. Ngoding cuma means to solve a problem aja. itu rencananya.. tapi …

Hidup berkata lain. Somehow walaupun kerja di perbankan masih juga ngoding, mulai dari datawarehouse, bikin script narik data AS400 sampai merging. Next malah buat visualisasi perminyakan, selanjutnya ngoding SDK terus balik lagi mainan data. Pernah nge-PM sebentar, karena satu dan dua hal balik jadi tech lead. Keterusan dah sampai sekarang.

Ngoding mulai dari J2EE, .NET, C++, MDX, balik java, terus kotlin, terus C++ lagi terus VB6, sekarang berlabuh di sekitaran python dan bash. Jangan lupa gw ngalamin krisis ekonomi 2007, 2012, dan sekarang 2022. Dulu goliath itu banking, terus pindah ke telco sekarang gacoannya startup unicorn to the moon.

So what next? I’m still singing in the rain. Saya mau ngoding seribu tahun lagi.

On recession

Tadi mau naro ini di linkedin, cuma karena satu dua orang kanan kiri kena kick sepertinya tidak etis sama sekali.

Ok..lah menurut gw … resesi ini diperlukan. Industry dah bloated bener dengan orang2 yg useless dan banyak bacot. Biarin sebentar lagi .. mungkin kita bakalan punya ceo bocah yang pikir dirinya next steve jobs lengkap dengan turtle neck dan pemahaman hampir nol tentang tech dan society.

Kenapa harus resesi? Karena bubble sudah tinggi sekali tentunya. Kenapa dibilang bubble? Dari nilai intirinsik dan nilai pasar jomplang jadi perlu adanya koreksi.

Kenapa gw bilang jomplang? Simple aja lah, banyak title udah di bubble banget. Simple nya … lu beli ferari yg dateng bemo. Setahun dua tahun masih sabar .. tahun ke tiga mulai gebukin dealer.

Dah ga kaget gw liat orang cem gini: senior software engineer yg bingung kenapa single object mutability bermasalah di concurrrncy, bangga terus bikin tech talk. Designer yg ga ngerti flow platform dan widget2. PM yg ga ngerti scope, timing dan budget. Terakhir banyak gw liat orang title data analyst alergi dan gemeteran kalo perlu bikin sql.

“That’s all right. These things gotta happen every five years or so, ten years. Helps to get rid of the bad blood. Been ten years since the last one. You know, you gotta stop them at the beginning. Like they should have stopped Hitler at Munich, they should never let him get away with that, they was just asking for trouble.” — Clemenza

In the end .. buat newbs keep sharpen those dagger, badai pasti berlalu lah.

Junior oh Junior

Junior yg overclaim emang kampret banget dah. Kerjaan 30+ diakui sendiri, mana kerjanya dulu sampingan pinggir2 mepet ke comberan, di klaim itu jalan tol. pusing baca2 yang beginian.

Buat orang awam wah kali ya, apalagi netizen dan head hunter. buat yg tua2 dan veteran cuma bisa mengerinyit dahi, ini ga mungkin, lu bilang joko tingkir mungkin. seperti di filem2 heker aja.

Kritik gw cuma satu, stop overclaim. coba jujur dengan skill diri sendiri. Project dan klien bakalan dateng dengan sendirinya seiiring dengan skill. Kalau profil saja sudah tipu2, project recehan nanti yg dateng, yg gede2 biasanya kirim feeler dulu buat project.

Just be honest with yourself. Kalau pakai tools orang bilang gw pake tools ini, kalau reuse code diluar sana bilang juga, sama bilang kalau project gede, kerjaan lu bagian mana.

on Puasa

Suprisingly enough, this ramadhan season is different for me. I found … again … my spirituality perhaps. The magic is totally on for me. Quite enjoying the sahur and breakfast time, less talk honest with several people haha.

The why, don’t know. old age perhaps? Or because I saw lots of death for the last 2 years?.

tech stack

Tech stack saya suka2, tergantung mood dan kebutuhan. tapi dari sepanjang karir selama ini ada berapa yang saya hindari misalkan:

  • Ruby on rails: great language, great library. sayang usernya banyak toxic, minimal to none technical knowledge end up drinking from gem waterhose.
  • Oracle related: sorry, males untuk going deep buat apa2 yang dikeluarin sama ni kompeni.
  • Apple dan para turunannya: sialnya kompeni laptop d kasih beginian. Gw dulu pengumpul mac/iphone/ipad sayang .. di indo punya beginian bukan buat fungsionalitas tapi lebih ke sosial status.

sisa dari itu, kayaknya gw open buat apa aja. sekarang lagi seneng liatin internal db sama bikin db kecil2an.

Saya benci orang bodoh

Saya bisa tahan lapar, kerja di atas 18 jam, mengerjakan hal paling membosankan bahkan diskusi ngalor ngidul untuk suatu topik yg absurd. Tapi … entah sejak kapan, saya kesal dengan orang bodoh.

Karir dan profesi saya mencoba untuk menjauh dari orang2 seperti ini. Saya memutuskan berkarir dibidang yang seharusnya memiliki kemampuan nalar dan bermatematika diatas rata2. Tujuan hanya satu, saya bisa hidup nyaman tanpa ketemu orang2 bodoh ini.

Sayang seribu sayang, profesi saya sekarang diminati bayak kalangan. Bukan karena tantangan intelektual ,yang ada semua karena uang. Uang yg dihasilkan di profesinya cukup melejit dekade saat ini. Alhasil mulai lah bermunculan kampus yg bisa semua orang masuk, cap ijasah dan tentu saja fast track dengan bootcamp.

Kalau lah orang2 ini mencoba untuk memahami ptofesinya dan coba berkontribusi untuk perusahaan, saya tidak akan ada masalah. Hanya saja akhir2 ini banyak sekali jargon dan omong kosong untuk biar terlihat aktif dikantor.

Emosi saya tidak stabil ketika melihat arsitektur yang melanggar pattern, bloated apps with gem this and that, dan project open source yang di exploitasi demi terlihat ciamik di cv.

Mungkin sudah saatnya untuk tidak peduli dan menutup mata?