Salihara

Akhir2 aku agak kangen Berliner symphoniker, terlihat dari kebiasaanku menggerakan tangan ketika bekerja di kantor. Hahaha ga penting bgt.

Ternyata oh ternyata, si ibu baca ada pentas seni di salihara. Salihara.. Ga pernah denger, gw taunya biasanya beginian ada di goethe institute. So… Iseng2 googling dapet lah alamatnya. Pulang kantor, culik si ibu meluncurlah kita ke tkp. Mein got!! dari depan puteran ke antasari udah macet nista. Huhu

Puter sana sini, ternyata salihara itu deket universitas unas. Oh disini toh unas, padahal dari dulu (2004?) pernah janjian buat ngecengin cewe kece, huhuhu, back topic!!, ketemu theather salihara.. Ternyata itu rumah toh. Gaya arsitekturnya mengingatkanku pada arsitektur kampus dulu, engga di cat, hanya plesteran dan rumahnya bentuk asimetris. Didepannya ada kopitiam.. Semacam kafe2 yang ada di taman ismail marzuki lah. Disekitar rumah banyak banget quote2 dari goethe atau nietsche, tanpa translate.. Apa gunanya seni pak kalau tak bisa dikonsumsi oleh jiwa?

So.. Ke counter ticket..jiwa pelit kita berdua tergugah dengan adanya harga khusus mahasiswa, haha si ibu pake ktm psikolognya.. Aku pake ktm jaman fasilkom. Deg2kan juga, jangan2 expirednya ntar diperiksa, tau2nya boleh masuk juga.

So so.. Presentasi kali ini soal puisi2 gunawan moehammad dijadikan sopranos dan symphoni. Pentas diawali dengan membunyikan gong 1x baru kita semua boleh masuk. Lalu ketika performance mau mulai, dibunyikan gong 3x, Jerman sekali..

Performance awal asik, diawali solo sopran dari ibu pakai jilbab putih, membuatku memfokuskan perhatian pada kata2nya. Diawali dengan alingdarma dan diakhiri oleh bukit yang tertidur.. Kok engga nyambung?

Terus dibelakang tiba2 muncul sopranos cowo, sepertinya dia menyanyikan transalasi dari puisi goethe, sang ayah berkuda di kemalaman, ,kali ini lebih menarik. Walaupun suaranya tidak sebagus si ibu sebelumnya..tapi setidaknya ceritanya nyambung.

Setelah itu ada choir.. Sepertinya anggotanya dari beberapa kalangan, ada yang masih student, ada ibu2 ada juga ababil ga jelas. Dari outfit yang mereka gunakan sepertinya.. Mereka ini sukarelawan.. Make up ada yang menor, ada juga yang engga pake. Jadi engga enak.. Jangan2 mereka ini sukarelawan, uang hasil pentas mungkin hanya cukup untuk ongkos. Choirnya asik, suaranya bagus, berpadu2 dengan indahnya. Tapi menurut gw sih masih bagus choir balairung ui 2002 dulu *maksa*

Terus.. Tertutuplah tirai!!, dan lampu pun dinyalakan.Kali ini aku lebih berbudaya sedikit :D. Masih duduk dan engga berpikir the show is ended hehe.. Tunggu 10 menit, ga ada tanda2 gini, terus tunggu lagi lima menit.. Wah apakah ini saatnya untuk pulang ? Siap2 untuk beranjak dari kursi, lampu gelap kembali. Oh sudah mulai.. Dimulai dengan cewe tiduran diatas buku muter2, terus musik dan lagi2 sajak tidak nyambung dibacakan… 10 menit.. Eh si cewe udah jongkok.. Gut gut..sampe akhirnya butuh 30 menit baru si cewe berbaju minim itu terbangun.. Lama amat mbak, kalo kebakaran gimana tuh. Dan akhirnya pementasan selesai.. Tepuk tangan bravo2 ..lalu aku menoleh ke wanita di sampingku.. “nonton transformer yuk”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s