on wasting time

saya butuh waktu sekitar 3 tahun untuk terbebas dari apapun yang berbau SMA. jadi jikalau di urutkan berdasarkan umur, saya lepas dari nostalgia jaman SMA disekitar umuran 21 tahun. dalam kurun 3 tahun tersebut saya aktif di alumni SMA mulai dari tukang sampah ngajak diskusi ga penting, donasi dari alumni sana sini sampai pernah ngajar juga.

sampai pada satu hari. Saya tersadar, saya sudah tua. ngapain berurusan dengan semua hal ini, kuliah terbagi dan SMA tanpa saya pun masih salah satu yang terbaik di negeri ini. jadilah saya fokus ke kampus yang konon terbaik di negeri ini.

setalah lulus kuliah dengan susah payah, saya pun bekerja. lagi-lagi terkena romansa jaman kuliah. banyak hal yang saya jalan2 ke kampus untuk sekedar main game atau proyekan dengan teman2 sejawat.  sampai saya tersdar, kebanggaan dengan almamater membuat saya sedikit susah maju. dengan kata lain, banyak hal yang saya pikir hina, masa alumni sekolah X mengerjakan ini. umpama dan katakanlah hal2 yang berbau administratif dan sales dan marketing dan semua yang anak SMA sebenarnya bisa melakukankannya tanpa perlu duduk di peguruan tinggi.

keangkuhan saya di bayar dengan mahal. saya tidak bisa jualan sama sekali. sampai jual diri pun harus memerlukan bantuan dari teman2 disekitar. akhirnya ya sudahlah saatnya memutuskan jembatan dengan kampus.dan fokus dengan hidup yang ada didepan mata.

suatu saat brutus accident happen. dan saya pikir ngapain bergaul dengan orang yang want to stab you in the back. so I move on again.

berpegang pada masa lalu itu penting. tapi karena berpegang erat dimasa lalu membuat kita tidak bisa melangkah maju adalah sebuah petaka. berpakaian seperti anak 18 tahun dengan perut buncit dan jaket almamater yang sudah pudar itu agak membuat saya miris. kampus, kalau butuh saya silahkan kontak, toh kantor lama saya sudah cukup memberikan kontribusi yang cukup berarti untuk kampus.

kontribusi terbaik untuk kampus adalah dengan berkarya di bidang kita yang sekarang. membantu anak2 yang mencari internship atau research, dan coba push keilmuan kita ketahap yang kita tidak paham betul. ini untuk buktikan kalau kampus tidak memberikan saya ikan untuk makan 5 tahun kedepan tapi kampus telah memberikan saya kail dan lampu untuk mejelajah dan berkontribusi untuk keilmu-an.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s