On getting fat

Tiap kali gw cek berat badan gw yang segitu2 aja gw mulai bertanya apa yang terjadi sebenarnya? Gw bukan tipikal orang yg ‘body minded’ per se, tapi.. sepertinya kesehatan gw mulai terganggu. Dengan banyaknya atau cepetnya terkena wabah flu dikantor atau naik tangga yang harus ngos2an.

gym

Gw masih nge gym rutin. Cuma berenang dan lari. And I feel great, kadang2 pop in di BJJ class buat gulet dikit.

Food

Interesting enough, gw engga makan sebanyak dahulu. Kecuali ada acara social macem temen traktiran atau weekend dah stress.

So why?

Teori pertama adalah umur. Gw engga seaktif seperti dulu kala, gw engga drive my own car, gw jarang jalan kaki dan tiap lunch tinggal ganti lift doang.

Teori kedua adalah banyaknya binge eating, kalau kantor hectic tiba2 aja ada coklat dimeja gw haha.

Teori ketiga adalah soal resolusi gw tahun lalu soal gw bakalan lebih sosial dan sharing knowledge, ternyata minimal saya bersosialisasi dengan orang seminggu 2x dan end up di coffee shop atau ice cream.

Solusi

Ini sepertinya chicken and egg. Antara gw hentikan kebocoran atau percepat laju kendaraan saya. Atau mungkin keduanya(yeah right). Which one to choose.

The bubble ….

Gw merasa gaji di dunia IT makin hari makin engga masuk akal. Kenaikan gaji 30% per tahun dan saya sedikit kaget kalau gaji IT disini lebih besar dari malaysia dan hampir sejajar dengan Singapura. Dari sisi orang-orang yang mengais rejeki dari kode binary ini oke dong. tapi ada beberapa hal yang menurut gw rada aneh.

Knowledge level
Knowledge level sekarang itu hampir sama atau bahkan lebih buruk dari jaman dahulu. Semakin lama semakin banyak orang-orang yang menhapal jurus daripada coba memahami. Ini berakibat dari interview terlihat ok pas harus kerja beneran butuh waktu lama atau bahkan engga bisa eksekusi sama sekali. Misalkan Mr X, dengan 5 halaman CV dan berhasil memukau HRD, ketika harus implementasi algoritma komparasi tanpa pakai library bingung bukan main, bukannya coba lihat buku atau tutorial tapi lebih baik ngebacot dan mencoba tasknya di matikan saja. Jaman dahulu ketika saya memulai karir, saya di bayar X rupiah, dan beliau ini saat ini dibayar 5X rupiah.

Hedonism
Lonjakan bayaran berakibat juga dengan lonjakan gaya hidup, Single tanpa tanggungan engga punya utang dan engga suka dugem berakibat duit menumpuk di rekening, makin menumpuk membuat bingung harus diapakan uang ini berakhir dengan beli rumah di pinggir jakarta tatau mobil baru. Sehari dua hari seneng terus sadar harus membayar rumah yang dia engga ingin tempati dan mobil yang mangkrak di parkiran kantor, dipakai juga paling maksimal kalau mau ke gym.

I am so happy about this. Our industry is a continuous learning environment and we got good salary for this. Tapi the bubble seems to almost to pop up. Startup dengan gaji dan fasilitas mewah mulai mengurangi dan menghentikan nerima pegawai baru, Beberapa konglomerasi yang coba2 icip2 bisnis IT udah mulai gulung tikar, antara susah dapat pegawai atau biaya produksi makin ga masuk akal.

Siapa yang dirugikan? bottom line pastinya. Gw lebih khawatir orang-orang yang dulunya dateng sebagai freshgraduate besar kepala sedikit, drop jatuh, terus non employment end up doing some stupid business atau tipu-tipu. Dan orang-orang yang dimanagement level tapi udah lupa technical end up jadi spesialis tukang teriak.

Anyway, it is better to prepare when the the bubble pop.

karbitan

saya percaya dari semua hal di dunia ini, 98% berasal dari persiapan, 2% hasil dari hari H. Seseorang yang mengambil ujian negara, 2 jam ujian dan mungkin bulanan atau bahkan tahunan di gunakan untuk persiapan selama 2 jam tersebut. dalam hal olahraga pun sepertinya sama juga, 5 menit pertandingan dengan persiapan ratusan jam.

dan akhir-akhir ini keyakinan saya sepertinya di uji, bukan di uji, mungkin lebih condong untuk di pertanyakan dan dilecehkan dengan hal-hal yang mulai serba instan. Dari dulu saya benci yang instan kecuali mie goreng instan, Bahkan untuk masuk universitas instan pun saya demo sampai rektor saat itu geleng-geleng kepala dengan kekerasan kepala saya, “Hasil pendidikan bukan di lihat dari IPK tapi dari ketika seseorang masuk ke dunia kerja atau akademis”, berikut ucapan bocah sok tau saat itu.

Ketika saya pulang merantau, ada pamflet yang menurut saya menarik, les persiapan ujian software standard, wah menarik juga, engga perlu punya komputer high end hanya untuk menjalankan simulasi dan membaca ratusan halaman konfigurasi plus harus ngerti business process dibelakangnya juga, dengan 60 jam pelajaran bisa ambil ujian sertifikasi, tertarik lah saya melihat open house, ajegile puluhan juta euy, terus juga “kalau dalam 60 jam engga selesai belajarnya gimana?”, “oh pasti selesai kok” kata sales dengan yakinnya. Hahaha, pantes lu jadi sales, get a real job will you?.

Skip beberapa bulan kemudian, saya kembali menjadi engineer di perusahaan elektronik lumayan besar, dengan posisi yang lumayan ok, minimal setahun sekali liburan/kerja rodi ke negeri timur jauh disana.  Rumah orang tua saya itu rumah / klinik kecil tempat bokap menerima pasien lama atau pasien yang yang ingin berkonsultasi lebih dari hitungan 15 menit, klinik juga buka kalau ada pasien yang menelpon ingin dateng kerumah. Pada suatu saat, saya pulang agak awal dari kantor, dan ada pasien ibu-ibu tua. “Ini yg kuliah IT itu yah”, “oh iya bu,” , sambil nunggu pintu cepetan dibukakan. “Cucu saya, dulu ingin kuliah IT, karena IPS urung lalu masuk menajemen di [kampus mahal], sekarang mau balik ke IT lagi lagi les di [tempat les yg penulis bilang di paragraf sebelum ini], kalau sudah les nanti kerja gaji minimal xx jt”,saya cuma bisa bilang, “wah hebat, mudah-mudahan cepat selesai pelatihannya”. Ada dua hal berkecamuk di kepala saya saat itu, satu berteriak “IT’S A FUCKIN TRAAP, JUST GOT OUT FROM THAT PLACE AND USE YOUR MONEY FOR SOMETHING ELSE”, tapi entah yang keluar dimulut saya cuma ” orang dengan skill XX memang gaji minimal segitu-an, saya mah engga sanggup.”,  Skip beberapa tahun kemudian orang yang di kita bicarakan jadi IT support di perusahaan BUMN besar dengan gaji 1/8 dari yang kita bicarakan. dengan gaji segitu bisa nutup biaya les dan sebagainya kalau engga makan mewah dan hidup dari orang tua, yah 2 tahun ketutup lah.

Skip waaay later, makin banyak tempat karbitan seperti ini, biasanya memang dunia IT, dunia ghaib yang hasil bacotan dan kerja keras sulit sekali dibedakan. Ada tempat yang mengajarkan javascript dan meyakinkan pasti kerja dengan gaji xx setelah lulus dengan biaya yang masyallah. Dek, kalau lu serius pengen kerja di IT, ambil salah satu buku in action dan jangan keluar kamar sebelum itu buku khatam, biaya pinjem buku gratisan, biaya denda telat 2 bulan balikin buku 32,500 rupiah, lu bisa lebih pinter dan menghemat puluhan juta rupiah.

terus ada lagi, ngajar masak sekarang. cukup 2 jam dan bisa bikin masakan ala chef ternama. bayarnya juga ga masuk akal dan harus ambil beberapa course langsung. haha.

menurut saya yang kolot ini, apa yang dilakukan tempat les2 tersebut hanyalah menhantarkan 2% dan 98% yang lainnya diabaikan. kan manusia suka yang fancy2 makan di sajikan sama chef, 2% waktu digunakan masak bahan, kasih bumbu terus goreng, 98% waktu dihabiskan buat belajar pallete, karakteristik daging, teknik memasak dan entah apalagi, banyak chef terkenal kalau kepala sudah beruban.

So does with javascript, itu cuma layer terdepan dari sebuah aplikasi kompleks. belajar javascript terus bisa bikin facebook? mungkin juga, kalau sudah pernah belajar soal scalability dan parallelism, which hal2 seperti ini bisanya diajarkan dengan pensil dan kertas dengan semalam suntuk coba mengerti paper ini maksudnya apa.

anyhow, ini cuma my 2 cent in life. ambil logika kapitalis2 diatas ini, maka buat jadi dokter cukup dengan 2 jam pelatihan, cara suntik dan cara nulis resep. Buat orang2 peserta hal2 karbitan seperti ini dan membela para kapitalis, just enjoy your minimum wage salary. Or you just got paid by coupon?

on guard

guard adalah posisi dimana orang yang agresive berada di antara dua kaki. tujuan dari guard adalah untuk menahan agresivitas, ada 2 guard yang sering dipake, open guard dan half guard. sebenarnya ada closed guard tapi itu perlu kaki panjang dan lawan sering dengan mudah membongkar kaki kita.

ada persaat ‘aman’ ketika berhasil membuat guard pada lawan, tapi itu sebenarnya cuma ilusi yang membahayakan. apapun yang orang bilang, guard adalah posisi bertahan. orang yang bisa ngubah guard jadi offensive adalah jago.

apalh yang harus dilakukan kalau guard berhasil di lewati?

  1. jangan panik
  2. bikin frame dari posisi badan terdekat
  3. GET OUT FROM THERE
  4. use another guard.

sekian dari celotehan tidak penting ini.

on wasting time

saya butuh waktu sekitar 3 tahun untuk terbebas dari apapun yang berbau SMA. jadi jikalau di urutkan berdasarkan umur, saya lepas dari nostalgia jaman SMA disekitar umuran 21 tahun. dalam kurun 3 tahun tersebut saya aktif di alumni SMA mulai dari tukang sampah ngajak diskusi ga penting, donasi dari alumni sana sini sampai pernah ngajar juga.

sampai pada satu hari. Saya tersadar, saya sudah tua. ngapain berurusan dengan semua hal ini, kuliah terbagi dan SMA tanpa saya pun masih salah satu yang terbaik di negeri ini. jadilah saya fokus ke kampus yang konon terbaik di negeri ini.

setalah lulus kuliah dengan susah payah, saya pun bekerja. lagi-lagi terkena romansa jaman kuliah. banyak hal yang saya jalan2 ke kampus untuk sekedar main game atau proyekan dengan teman2 sejawat.  sampai saya tersdar, kebanggaan dengan almamater membuat saya sedikit susah maju. dengan kata lain, banyak hal yang saya pikir hina, masa alumni sekolah X mengerjakan ini. umpama dan katakanlah hal2 yang berbau administratif dan sales dan marketing dan semua yang anak SMA sebenarnya bisa melakukankannya tanpa perlu duduk di peguruan tinggi.

keangkuhan saya di bayar dengan mahal. saya tidak bisa jualan sama sekali. sampai jual diri pun harus memerlukan bantuan dari teman2 disekitar. akhirnya ya sudahlah saatnya memutuskan jembatan dengan kampus.dan fokus dengan hidup yang ada didepan mata.

suatu saat brutus accident happen. dan saya pikir ngapain bergaul dengan orang yang want to stab you in the back. so I move on again.

berpegang pada masa lalu itu penting. tapi karena berpegang erat dimasa lalu membuat kita tidak bisa melangkah maju adalah sebuah petaka. berpakaian seperti anak 18 tahun dengan perut buncit dan jaket almamater yang sudah pudar itu agak membuat saya miris. kampus, kalau butuh saya silahkan kontak, toh kantor lama saya sudah cukup memberikan kontribusi yang cukup berarti untuk kampus.

kontribusi terbaik untuk kampus adalah dengan berkarya di bidang kita yang sekarang. membantu anak2 yang mencari internship atau research, dan coba push keilmuan kita ketahap yang kita tidak paham betul. ini untuk buktikan kalau kampus tidak memberikan saya ikan untuk makan 5 tahun kedepan tapi kampus telah memberikan saya kail dan lampu untuk mejelajah dan berkontribusi untuk keilmu-an.