on personal fitness

for the last eight years I spent tons of money to the gym I never/ seldom goes to. I do not know exactly why I dont go to that place, position.. it is near my house, facilities .. nice yah, not so many ‘sotoy’ or ‘bulky’ guy goes there too.

Think again.. it is the boredom I got from that place. An hour running or swimming, then weight lifting.. oh .. what a brain dead exercises. You know other things brain dead stuff to do? go to the religious meet up, hear some illogical stories from an old book. Man..

Somehow, I need to do some stuff:

  1. Cardio stuff
  2. HIIT stuff

weight.. not so much, already strong.. haha, I thought I am gonna throw some dough to fitness game, boxing seems fun, or that switch ring stuff.

tada…

The end is near …

Beberapa hari terakhir, gw ngobrol banyak sama temen2 di dunia startup, satu hal yang dibicarakan utamanya adalah soal gaji. Yang .. makin hari makin gila. Gila aja bayar freshgraduate setinggi itu.

Tapi temen satu bilang, kalo engga di snap dari sekarang, harganya bakalan lebih naik lagi setahun dua tahun kedepan. Yang udah senior.. harganya juga makin ga make sense juga.

Waktu gw sma, gw dikasih tugas buat nulis something tentang ekonomi. Untung waktu itu gw punya narasumber lumayan, jadi tinggal ambil fakta2 dan tulis kata bersambung diantara fakta itu.

Menurut gw yang bocah umaur 14 tahun, alesan krisis ekonomi adalah peraturan pemerintah yang membuat batas untuk membuat bank jadi mudah. Mulailah bank dengan nama2 ajaib bermunculan dan kebanyakan punya afiliasi dengan konglomerasi besar.

Terlihat ok dong.. butuh modal tinggal akses bank internal ga ada fee2 dan ga ada birokrasi yang panjang.

Sialnya.. bank ini di kelola sama orang2 ga kompeten. Misalnya lulusan kampus yang ga ada hubungannya dengan keuangan atau matematika tapi tinggal di training beberapa bulan terus jadi kepala cabang bank x.

Ketidak kompetennya berlanjut si sisi training, ada standard tes yang harus dilewati, tapi ada yang bisnis rumus cepat dan kenal orang dalem.

Cukup dalam 10 tahun, utang bank2 ini meningkat dengan asset yang jauh lebih rendah dari utang. Sistem gali lubang tutup lubang dilakukan untuk tetep berjalan.

Terus krisis ekonomi, mulai dari korea selatan terus berimbas ke indo. Udah utang gede, ga punya asset terus bayar pake apa?

Rampok BI rame-rame. Bayar utang dengan bunga rendah dari BI dan tutup banknya. Yang masih ga mampu dimerger atau dimasukan ke kesehatan perbankan.

Dunia startup sepertinya dah sama, dimulai dari duit tanpa seri , pengen growth gede jadi beli pemaen instan. Curi coder dari tim lawan, pas coder yang dicuri udah abis, coba mulai dari kampus dan kita punya masalah gaji yang makin ga make sense. Se engga make sense pendapatan 60 M setahun bayar gaji dan operasional 90M sebulan.

Belum lagi gambling beli coder muda engga sukses, udah gaji gede, ga produktif.. harusnya diapain? Pecat ? Uang pesangon kegedean, yuk masukin aja di project management. Ketidak kompetenan terjadi di produk juga, requirement ga jelas, kadang2 ga ada requirement, produk asal jadi berakhir dengan engga laku.

Startup terpaksa gulung tiker atau dicaplok sama pemegang pasar. Hiring freeze, karena kita dah punya kebanyakan engineer dan produk ga bermutu.

Yang senior dan para fantasista? Memutuskan untuk hijrah ke negara seberang. Startup mulailah cara2 ga enak untuk mengusir karyawan, mulai dari absen ketat sampai project di tutup-buka berkali kali.

Investor mau masuk startup ngeri, duit entry fee gede banget, tingkat pengembalian ga jelas.

So tinggal tunggu waktu sampai investor tarik duit, senior engineer cabut ke negara tetangga dan meninggalkan kumpulan orang ga jelas.

Dan bubble itu pun pecah. Meninggalkan fakta kalau kapabilitas teknologi negara ini rendah, ditutupi bedak software as service yang ada di luar sana. Tinggal tunggu waktu semua orang pakai bedak yang sama, and where is your strategic advantage?

We are just jumping from one incompetencies to another.

On changes

Saya frustasi dengan orang2 yang belajar sesuatu terus harus set in stone. misal orang yang cuma tahu kalo server itu harus windows server, deployment itu harus satu-satu. susah di bilangin orang-orang macem begini.

tapi kan orang-orang ini tipikal yang penting dapur gw ngebul, segala sesuatu yang membuat gw harus out of my comfort zone adalah bencana buat project dapur ngebul gw. ah payah, bikin kepala pusing. kadang-kadang kepikiran buat jadi hitler aja kalo begini sih mah.

gw takut gw bakalan berubah jadi zombie juga.

On belajar dari nol

Tadinya gw ini tipikal yang mapping what employer need dan skill set yang gw punya. setelah beberapa lama, ini ok banget buat karir gw selama ini. sampai disatu titik… employer gw engga tau mau apa? tapi mereka merasa butuh gw. Jadi gw coba mapping2 lagi. hmm.. ini mulai abstrak, bukan fix some fuck up code, coder2 yang udah menghilang atau rejuvenate some very old but successful tech.

So here I am, feeling got paid big for doing nothing ( at least for the last 2 months). tapi .. tapi .. somehow gw baru sadar, mungkin selama ini otak gw itu tipikal tech banget. mulai dari programming language baru sampai teknologi big data terbaru. tapi masalah kompeni bukan soal teknologi. engineer yang jago banyak loh.

So I go with another approach. I come clean, blank my head, and wasting my time reinvent the wheel again. making the project becoming agile, the agile one such as this is stupid lets not doing this, not agile I am using tracker then I am agile.

The worst effect is I am so tired. doing some sports or fighting is not kick in anymore. but I found something else… physics !!. Somehow those books are really nice to read and to apply. the others is Calculus. after got three ( yes 3!) stars on my bachelor study, I find it is really interesting.

So my daily life:
– Hacking what ever for the company
– going home
– enjoy some physics or calculus.

oh yes, I am getting fatter again. shit. time to go swimming with my new knowledge of fluid.

on naik MRT

Kemaren gw coba naik MRT, dari kantor tinggal jalan kaki ke ratu plaza. Plan gw yaitu jalan kaki, terus mrt, terus naik busway terus jalan kaki ke rumah. begitulah ceritanya tapi tentu hasil akhirnya beda.

Hal yang menarik dari mrt bisa bayar pakai kartu pembayaran elektronik, which entah kenapa nyokap selalu ngasih itu dan dengan saldo yang wtf. jadilah ada duit yang engga mubazir.

turun kedalem MRT cukup dalem, gw pikir nyantai, kan nanti ada eskalator. gw turun, celingak celinguk, hmm.. bisa lumayan buat bantu nyebrang, karena di dalem lantai pertama gw bisa nyebrang jalan sudirman. ok lah.

masuk ke dalam keluarin kartu eletronik, bisa masuk. turun lagi, kereta udah kebuka. masuk.. eh ketemu bos vp engineering startup yang lagi hot banget. ngobrol2 bentar terus misah di BNI city.

plan gw yaitu dari HI, naik busway, terus pulang. keluar mrt, buset, eskalatornya belom jadi, males kali naik sepanjang itu. mau naik lift, terlalu gengsi kali yah. terus berpikir, masuk lagi ke bawah, naik sampai dukuh atas, liat lagi, eskalator udah jadi.

naik eskalator, terus cegat taksi. yah lumayan lah. begitu lah. haha ga jelas banget.

On taking a cab

Beberapa keadaan membuat gw lebih baik naik kendaraan di pagi hari. Dan dengan adanya ganjil genap hal itu memungkinkan yaitu bawa mobil atau naik taksi ke kantor.

Gw decide untuk naik taksi, biaya naik taksi dengan bayar parkir dikantor secara mengejutkan hampir sama. Ga sama2 banget tapi biaya parkir mendekati setengah dari biaya taksi. Dengan pertimbangan males nyetir dan males keluar parkir dengan para alay2.

Tapi sepertinya keputusan itu perlu berubah. Taksi kualitasnya makin buruk. Bukan buruk dari pelayanan ini sampai level nyetir aja tidak bisa. Seriusly gw pernah naik ke trotoar dan supirnya minta maaf aja engga.

So sekarang kombo antara taksi dan gojek, hojek buat pulang, taksi buat berangkat. Sepertinya juga taksi yang berputar di kawasan rumah sedikit lebih baik.

Kadang2 jangan lah bikin fitur ini itu kalau essensial services aja belom bisa. Itu bikin orang kabur engga sih?