tentang indepedensi media

pertanyaan awal.. mungkinkah?

ada sebuah isu yang lagi santer saat ini. tentang kekayaan seseorang yang konon mendekati hartanya karun. Mungkin? mungkin om, soalnya si ‘ini’ konon menggunakan jabatan untuk memperkaya diri( btw, siapa tidak?) , semua orang tau itu, meskipun rumor, tapi tetap menjadi santapan menarik di warung kopi atau warung makan di sekitar kita.

Tapi… gosip itu mulai berubah menjadi suatu berita.. ketika kejaksaan negara antah berantah berhasil secara sukses merubah fakta menjadi legenda dan penghormatan terhadap orang ‘itu’ juga masihlah ada.. bahkan konon dapet 4% suara di pemilu( cukup hebat untuk partai gurem)..dan dunia.. mulai tidak berhasil untuk menutup mata, legenda kembali dirubah menjadi berita, penjahat telah ditetapkan, tapi tidak ada tindakan.. itu lagi karena adanya ‘orang kuat’

awalnya berita disuatu koran santer, bahkan pernah menurunkan liputan khusus, tapi… konon karena dan hanya jika koran itu dimiliki oleh ‘putera mahkota’ yah.. gitu deh tenggelam. bukan tenggelam lagi, bahkan fakta dicoba untuk diputarbalikan. ada juga koran yang mencoba untuk tetap berjalan dijalan yang benar, tapi.. oplah mereka tidak sebanyak oplah pesaingnya..

gimana dengan judging by the press?? bodo !!. orang ini telah membawa malapetaka bagi ratusan ribu orang( belom kalo diitung anak istri) diawal karir menapak kekuasaan, ketika kekuasaan goyang.. melampiaskan nafsu binatang membunuh pada ras yang menurut gw justru menopang kehidupan ekonomi dan intelektualitas negara ini. itu diawal dan akhir, gimana dengan ditengah? macam kasus priok gitu? setelah itu bagaimana bisnis kotor keluarga merambah, para pebisnis jujur disingkirkan dengan cara keji, hal ini juga berdampak pada berkembangnya generasi tukang jilat dan tukang tipu, menurut legenda antah berantah pimpinan generasi ini pernah juga menjadi menteri dan bertahan lama.

Guru gw pernah bilang.. jangan pernah mau jadi stensilan, which mean tulisan tanpa memihak, bahkan tidak memihak adalah salah satu bentuk memihak.. udah saatnya media menulis bukan untuk kucuran koin yang bisa masuk tapi bagaimana merangkai, inspire, membuat tatanan komunitas yang lebih baik. mungkin sudah saatnya pelepasan intervensi dari para pemilik modal, tapi apa berani media-media kita itu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s