to coach or not to coach

beberapa hari ini gw berpikir buat bikin semacam coaching season buat orang2 yang ada under gw secara langsung, dan mungkin gw bakalan training orang yang pernah di titipin dibawah gw. tapi ya itu.. ada beberapa pertanyaan yang masih numpuk di kepala

bisa ngetraining ga?
hahaha, jaman kuliah yah pernah training beberapa orang, terus juga pernah jadi assisten dosen. cuma ya itu.. orang yang pernah gw training pada levelnya dewa, kalau gw ngomong pake kentut mungkin mereka juga ngerti.
sekarang?? bisa dibilang divisi gw divisi x-files. penuh dengan orang2 yang dianggap pembangkang dan kemungkinan karirnya bakalan dimatikan.kalau gw liat.. ya ada sih yang sulit berkembang, tapi ada juga yang gw pikir bisa dimajukan menjadi something. balik lagi.. mau maju atau engga.. level mereka bukan dewa.

metode mana?
ga mungkin lah gw conduct training sendirian. dan apa gw juga punya waktu buat itu? dan apakah mereka punya waktu juga buat training ini itu?

so in the end.. should I propose this idea?

Advertisements

One thought on “to coach or not to coach

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s