karbitan

saya percaya dari semua hal di dunia ini, 98% berasal dari persiapan, 2% hasil dari hari H. Seseorang yang mengambil ujian negara, 2 jam ujian dan mungkin bulanan atau bahkan tahunan di gunakan untuk persiapan selama 2 jam tersebut. dalam hal olahraga pun sepertinya sama juga, 5 menit pertandingan dengan persiapan ratusan jam.

dan akhir-akhir ini keyakinan saya sepertinya di uji, bukan di uji, mungkin lebih condong untuk di pertanyakan dan dilecehkan dengan hal-hal yang mulai serba instan. Dari dulu saya benci yang instan kecuali mie goreng instan, Bahkan untuk masuk universitas instan pun saya demo sampai rektor saat itu geleng-geleng kepala dengan kekerasan kepala saya, “Hasil pendidikan bukan di lihat dari IPK tapi dari ketika seseorang masuk ke dunia kerja atau akademis”, berikut ucapan bocah sok tau saat itu.

Ketika saya pulang merantau, ada pamflet yang menurut saya menarik, les persiapan ujian software standard, wah menarik juga, engga perlu punya komputer high end hanya untuk menjalankan simulasi dan membaca ratusan halaman konfigurasi plus harus ngerti business process dibelakangnya juga, dengan 60 jam pelajaran bisa ambil ujian sertifikasi, tertarik lah saya melihat open house, ajegile puluhan juta euy, terus juga “kalau dalam 60 jam engga selesai belajarnya gimana?”, “oh pasti selesai kok” kata sales dengan yakinnya. Hahaha, pantes lu jadi sales, get a real job will you?.

Skip beberapa bulan kemudian, saya kembali menjadi engineer di perusahaan elektronik lumayan besar, dengan posisi yang lumayan ok, minimal setahun sekali liburan/kerja rodi ke negeri timur jauh disana.  Rumah orang tua saya itu rumah / klinik kecil tempat bokap menerima pasien lama atau pasien yang yang ingin berkonsultasi lebih dari hitungan 15 menit, klinik juga buka kalau ada pasien yang menelpon ingin dateng kerumah. Pada suatu saat, saya pulang agak awal dari kantor, dan ada pasien ibu-ibu tua. “Ini yg kuliah IT itu yah”, “oh iya bu,” , sambil nunggu pintu cepetan dibukakan. “Cucu saya, dulu ingin kuliah IT, karena IPS urung lalu masuk menajemen di [kampus mahal], sekarang mau balik ke IT lagi lagi les di [tempat les yg penulis bilang di paragraf sebelum ini], kalau sudah les nanti kerja gaji minimal xx jt”,saya cuma bisa bilang, “wah hebat, mudah-mudahan cepat selesai pelatihannya”. Ada dua hal berkecamuk di kepala saya saat itu, satu berteriak “IT’S A FUCKIN TRAAP, JUST GOT OUT FROM THAT PLACE AND USE YOUR MONEY FOR SOMETHING ELSE”, tapi entah yang keluar dimulut saya cuma ” orang dengan skill XX memang gaji minimal segitu-an, saya mah engga sanggup.”,  Skip beberapa tahun kemudian orang yang di kita bicarakan jadi IT support di perusahaan BUMN besar dengan gaji 1/8 dari yang kita bicarakan. dengan gaji segitu bisa nutup biaya les dan sebagainya kalau engga makan mewah dan hidup dari orang tua, yah 2 tahun ketutup lah.

Skip waaay later, makin banyak tempat karbitan seperti ini, biasanya memang dunia IT, dunia ghaib yang hasil bacotan dan kerja keras sulit sekali dibedakan. Ada tempat yang mengajarkan javascript dan meyakinkan pasti kerja dengan gaji xx setelah lulus dengan biaya yang masyallah. Dek, kalau lu serius pengen kerja di IT, ambil salah satu buku in action dan jangan keluar kamar sebelum itu buku khatam, biaya pinjem buku gratisan, biaya denda telat 2 bulan balikin buku 32,500 rupiah, lu bisa lebih pinter dan menghemat puluhan juta rupiah.

terus ada lagi, ngajar masak sekarang. cukup 2 jam dan bisa bikin masakan ala chef ternama. bayarnya juga ga masuk akal dan harus ambil beberapa course langsung. haha.

menurut saya yang kolot ini, apa yang dilakukan tempat les2 tersebut hanyalah menhantarkan 2% dan 98% yang lainnya diabaikan. kan manusia suka yang fancy2 makan di sajikan sama chef, 2% waktu digunakan masak bahan, kasih bumbu terus goreng, 98% waktu dihabiskan buat belajar pallete, karakteristik daging, teknik memasak dan entah apalagi, banyak chef terkenal kalau kepala sudah beruban.

So does with javascript, itu cuma layer terdepan dari sebuah aplikasi kompleks. belajar javascript terus bisa bikin facebook? mungkin juga, kalau sudah pernah belajar soal scalability dan parallelism, which hal2 seperti ini bisanya diajarkan dengan pensil dan kertas dengan semalam suntuk coba mengerti paper ini maksudnya apa.

anyhow, ini cuma my 2 cent in life. ambil logika kapitalis2 diatas ini, maka buat jadi dokter cukup dengan 2 jam pelatihan, cara suntik dan cara nulis resep. Buat orang2 peserta hal2 karbitan seperti ini dan membela para kapitalis, just enjoy your minimum wage salary. Or you just got paid by coupon?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s